Feeds:
Pos
Komentar

Nasi Bungkus Rp 4.000

Di saat berbagai macam harga kebutuhan pokok meroket, masih ada lho…orang yang menjual nasi bungkus seharga Rp 4.000. Eh…jangan berkomentar atau mencibir dulu! Baca dulu tulisan saya ini, setelah selesai bolehlah Anda berkomentar. Mencibir sekalian juga boleh!!

Bagi Anda yang berdomisili di Jogjakarta pasti sudah tidak asing dengan rumah makan gudheg Yu Djuminten. Terletak di belakang pasar Kranggan, agak ke barat sedikit. Letaknya persis di sudut Jl.  Kranggan & Asem Gedhe. Di rumah makan inilah Anda dapat membeli nasi bungkus seharga Rp 4.000.

Saat ini, sambil mengetik di depan komputer, saya sedang membuka kertas pembungkus nasi bungkus tersebut. Anda ingin tahu isinya? Ocre deh…mari kita buka bersama-sama. Krusek…krusek… Ikuti investigasi saya…

Hmmm…nasinya putih & empuk, dibungkus ketika saya membeli jadi masih hangat. Porsinya cukupan untuk acara makan siang. Di dekat nasi, dibatasi kertas coklat ada gudeg basah , daging ayam yang disuwir-suwir, telur separo  & sambel.

Selain itu Anda juga akan mendapatkan tambahan fasilitas berupa sendok bebek plastik & selembar tisu. Hebat gak? Kurang apa lagi hayo? Tentang rasa? Kalo tentang yang satu ini…hiii…maaf ya…kata teman saya, lidah saya itu cuma bisa merasakan rasa enak & enak banget. Jadi ya…tidak bisa untuk patokan.

Sebagai gambaran dapat saya katakan, gudheg ini tidak terlalu manis dibandingkan dengan gudheg Jogjakarta  pada umummya.  Rasanya enak, apalagi untuk makanan dengan harga Rp 4.000. Yang jelas nasi bungkus ini dapat dijadikan alternatif pengisi perut yang murah meriah.

Oya…, ada tips untuk membeli nasi bungkus ini. Saya dan teman saya biasanya membeli lewat pintu samping belakang yang terletak di Jl. Kranggan. Jangan lupa mengatakan kalo Anda ingin membeli nasi bungkus seharga Rp 4.000. Kalimat tersebut harus diucapkan dengan jelas, karena kalo tidak bisa-bisa Anda akan mendapatkan nasi gudheg seharga Rp 9.000 dengan penampilan, rasa dan uba rampe yang tidak terlalu jauh berbeda, hanya dimasukkan dalam kardus.  Penasaran ingin membuktikannya? Cobain deh!

Oleh-oleh dari Papua

Semua bermula ketika teman saya, Wahyu pulang dari Papua. Dia bilang ada oleh-oleh untuk saya & Fajar, teman saya. Dalam hati, saya berkata, jangan-jangan dapat oleh-oleh tas nih… Wah asyik banget, bisa dipamerin ke teman-teman. Mereka pasti bakalan ngiri.

Dengan semangat ’45, saya & Fajar bertandang ke tempat kost Wahyu di daerah Kentungan. Pikiran saya sudah penuh dengan bayangan tas Papua yang melambai-lambai seakan minta “dicangklong”. Sepanjang perjalanan, senyum yang dimanis-manisin selalu tersungging di bibir saya.

Sampai di tempat kost Wahyu, kami langsung diajak masuk ke kamarnya. Mata saya tanpa sopan santun sudah langsung menjelajah kamar Wahyu mencari-cari tas yang sudah sejak tadi “tercangklong” di pikiran. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, Wahyu mengambil 2 buah benda seperti tabung panjang melengkung dengan salah satu ujungnya mengecil & dihiasi bulu-bulu halus seperti bulu burung.

Saya belum pernah melihat benda seperti itu secara langsung, tapi saya pernah melihatnya di tv, majalah atau surat kabar. Kening saya berkerut, firasat buruk langsung menyergap & menjatuhkan tas yang “tercangklong” di pikiran saya. Pasti itu….!!!

Ternyata benar! Duh Gusti…., saya & Fajar dapat oleh-oleh koteka! Seumur hidup tidak pernah saya bayangkan bisa memelototi koteka secara langsung. Sekarang saya malah bisa memegangnya bahkan memilikinya. Dalam hati saya berpikir, mau disimpen di mana benda keramat seperti ini. Jangan-jangan ini koteka seken lagi! Hiii…!!! Sepanjang perjalanan pulang dari tempat kost Wahyu, senyum mringis selalu tersungging di bibir saya.

Akhirnya koteka itu saya simpan di dalam lemari pakaian, di rak yang paling bawah. Lemari pakaian? Lha…bener kan kalo disimpan di lemari pakaian? Bukankah itu termasuk pakaian? Emang harus dipajang? Di kamar saya?! Wah…tunggu dulu…tunggu dulu….!!

Maaf…, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada budaya & adat istiadat suku-suku di Papua, memamerkan koteka ke orang tua saja saya tidak berani, apalagi memajangnya di kamar. Rasa-rasanya itu bukan ide yang bagus! Apa tidak serasa memajang celana kolor di dalam kamar? Kalau membuangnya? Ah…tidak tega rasanya.

Untuk memecahkan masalah, akhirnya saya tawarkan koteka itu kepada teman-teman saya. Siapa tahu ada yang tertarik menyimpan atau memajangnya? Tapi hasilnya selalu nihil. Jangankan memajang, setelah tahu benda itu adalah koteka, salah seorang teman saya bahkan melemparkannya ke muka saya sambil menjerit-jerit kegelian. Sialan banget! Ini pelecehan namanya! Sama saja dengan melempar muka saya dengan celana kolor. Dasar tidak tahu sopan santun!!

Setelah bertahun-tahun menjadi penghuni lemari pakaian, akhirnya doa saya untuk koteka dikabulkan Tuhan. Ada saudara saya yang tertarik untuk menyimpannya. Langsung saja saya bungkus rapat koteka itu dengan koran bekas & saya antar ke rumah saudara saya. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah saudara saya, senyum lega selalu tersungging di bibir saya.

Mungkin kalau kotekanya seukuran gantungan kunci, saya tidak bakalan sepusing ini. Kira-kira ada yang bisa untuk gantungan kunci tidak ya? He…he…he… Ternyata mendapat oleh-oleh tidak selalu menyenangkan.

Beli 1, Gratis 1

Di sepanjang jalan menuju ke rumah saya terpasang berderet-deret iklan. Bukan iklan yang besar & mencolok milik perusahaan besar, tapi iklan-iklan sederhana yang mempromosikan jasa atau produk-produk yang sederhana juga. Terkadang iklan itu hanya berupa tulisan di atas selembar papan atau kain yang dicantolkan di tiang listrik atau berupa kertas fotokopian yang ditempel di tembok.

Sebenarnya tidak ada yang terlalu menarik dari iklan-iklan itu & biasanya saya hanya sambil lalu saja membacanya. Tapi…, beberapa hari yang lalu ada iklan yang isinya cukup menggelitik hati saya & mungkin  juga menarik hati Anda (yah… siapa tahulah?!).

Iklan itu dipasang oleh seorang pemilik toko bahan bangunan yang menjual semen, tegel, wastafel & barang sejenisnya. Ditulis di selembar kain merah, tulisan iklan itu kira-kira seperti ini: ”Beli kijing 1, gratis 1 kijing”. He…he…he… Kira-kira ada yang tertarik tidak ya? Anda tertarik?

Oya…, untuk Anda yang tidak mengerti bahasa Jawa, kijing adalah bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia berarti nisan. Bagaimana? Anda masih tertarik juga?

Foto-foto yang sudah mulai terkumpul.

Dear teman-teman semua…,

Ada rencana untuk ngadain reuni murid2 Elisabeth dari yang jaman dulu kala sampai yang  jaman  masa kini. Tapi… ini rahasia karena Tante gak diberitahu. Maksudnya sih…kejutan!!! Jadi teman2 semua dimohon berhati2, jangan sampai rencana ini ketahuan Tante alias bocor.

Rencananya, acara ini akan diadakan bulan Maret (kira2 Minggu ke-3). Tempatnya, ya…di tempat kursus, karena tempat itu satu2-nya tempat yang kita semua sudah tahu. Rencananya, kita mau membuat kenang2an untuk Tante berupa hiasan dinding (kalo memungkinkan) yang berisi foto murid2 Tante.

Untuk itu, dimohon kesediaannya mengumpulkan foto sebanyak 2 lembar, berwarna, pose bebas asal sopan. Foto boleh diambil dari potongan ketika foto bareng2, asal ukurannya gak terlalu kecil. Kalo memakai pasfoto, ukuran minimal 3×4 cm. Kedua foto gak harus sama persis, boleh beda pose maupun ukuran.

Selain mengumpulkan foto, dimohon menulis di atas kertas (tulisan tangan):

Nama lengkap (nama panggilan).

Kota asal.

Kesan tentang Tante atau kesan selama belajar di Elisabeth.

Tanda tangan.

Contoh:

Ayu Azahari (Hari)

Sukabumi

Tante baik suka memberi kue.

Tanda tangan.

Foto & kertas tersebut dimasukkan dalam amplop tertutup & di bagian belakang ditulis alamat rumah, no tilpun rumah/HP & alamat e-mail (kalo punya). Dikumpulkan paling lambat minggu ke-3 bulan Februari. Untuk yang di sekitar Jogjakarta dapat dikumpulkan di:

  1. Rumah mbak Sari di mBogem, di pinggir jalan Jogjakarta-Surakarta yang ada kebun anggreknya. Kalo dari Jogja sebelah kanan jalan, sebelum candi Prambanan. Seperti apa profil mbak Sari, bisa dilihat di daftar teman fb saya.
  2. Mbak Eni (modiste K-REENA), sebelah barat jembatan Sardjito.Kalo dari perempatan Jetis, sebelah kiri jalan. Modistenya di lantai 2, jadi langsung saja naik ke atas. Kalo ke tempat mbak Eni jangan malam hari & jangan hari Minggu. Mbak Eni sedang dalam proses menjadi teman fb saya, seperti apa profilnya, ya…ditunggu saja. E…tapi jangan keliru dengan teman saya Enny Catur, mbak Eni yang dimaksud bukan yang itu.
  3. Tante Indri (modiste G-Collection), Jl.Gejayan, sebelah utara Emde Moda atau sebelah utara persis butik Flip-Flop (jejeran). Kalo dari selokan Mataram sebelah kiri jalan, sebelum kuburan (seberang pasar Santren). Tante Indri kira2 punya fb gak ya? Lupa tanya! Yang  jelas tante Indri punya anjing. Menurut informasi gak galak sih & gak suka makan tulang, tapi belum lama ini habis melahirkan.
  4. Mbak Amelia (toko Linda), Jl. Kaliurang KM 7,8 seberang PLN Banteng. Seperti apa profil mbak Amelia, bisa dilihat di daftar teman fb saya. Tapi fotonya kecil.

Oya…di bagian depan amplop ditulis: nama tempat pengumpulan (REUNI). Misal: MBAK SARI (REUNI). Maksudnya, andai gak bisa ketemu langsung dengan mbak Sari (mungkin lagi pergi) gak apa2, proses pengumpulan tetap dapat berlangsung. Atau kalo merasa ragu2, bisa menghubungi saya setelah mengumpulkan.

Untuk iuran, Rp 10.000/orang. Bila berlebih, boleh memberi lebih karena gak semua dimintai iuran jadi sistem subsidi silang-lah. Iuran dapat dimasukkan sekalian di dalam amplop.

Untuk yang berada diluar kota, dapat dikirimkan lewat pos (untuk alamatnya mohon hubungi saya) atau terpaksanya lewat e-mail juga gak apa2. Untuk yang berada diluar negeri, lewat e-mail saja. Tapi andaikata mau lewat pos, saya akan lebih senang sekali. Untuk yang luar kota & luar negeri, ditunggu kirimannya sampai akhir Februari.

Demi terlaksananya acara reuni ini, apabila Anda:

  1. Mengenal murid2 Tante yang dulu2, yang mungkin saya gak mengenalnya atau saya kenal tapi kehilangan jejaknya,
  2. Ada saran, pendapat, kritik & pertanyaan,
  3. Kerepotan mengumpulkan foto atau merasa gak mempunyai foto.

bisa menghubungi saya lewat ponsel atau lewat fb saya (ikasdy@gmail.com).

Apalagi ya…? Sepertinya sudah semua, semoga gak ada yang kelewatan. Kalo ada yang kelewatan, ya…nanti menyusul.

Mohon maaf kalo ada salah2 kata. Saya tunggu partisipasinya ya…. Terima kasih.

Ika.

NB: Kalo bisa pas datang di acara reuni dimohon memakai baju karya masing-masing.

Jenang Pelok

Namanya saja jenang pelok, tentu saja bahan dasarnya dari pelok. Pelok? Apaan tuh? Pelok adalah biji atau isi mangga. Pelok yang dipakai di sini adalah pelok yang berasal dari mangga yang sudah masak jadi peloknya sudah keras.

Walau ini makanan kampung dan jadul, prinsip-prinsip modern yang disebut daur ulang diterapkan dalam pembuatan jenang pelok. Haah…??!! Bagaimana tidak, pelok yang biasanya kita buang mak…wer di tempat sampah tanpa rasa hormat sedikitpun, dapat dimanfaatkan dan menjelma menjadi makanan yang enak yang mirip dengan dodol. Lanjut Baca »

Foto Bapak

Kira-kira 2 bulan yang lalu,  Bapak menunjukkan foto diri Bapak dalam ukuran besar kepada saya. Ada 2 foto, keduanya foto setengah badan Bapak.

Yang pertama,  foto Bapak memakai jas lengkap dengan dasinya. Foto itu diambil ketika Bapak menghadiri suatu acara di Semarang.  “Wah…, kok kaya fotone Mr. Bean Pak?!” kata saya setengah mengejek. Lanjut Baca »

Pisau Pencukur

Teman saya Eka, berasal dari Pontianak. Walaupun sudah lama tinggal di Jogjakarta dan biasa berbahasa Jawa, kadang-kadang ada saja kata-kata yang salah Eka ucapkan. Lanjut Baca »