Semua bermula ketika teman saya, Wahyu pulang dari Papua. Dia bilang ada oleh-oleh untuk saya & Fajar, teman saya. Dalam hati, saya berkata, jangan-jangan dapat oleh-oleh tas nih… Wah asyik banget, bisa dipamerin ke teman-teman. Mereka pasti bakalan ngiri.
Dengan semangat ’45, saya & Fajar bertandang ke tempat kost Wahyu di daerah Kentungan. Pikiran saya sudah penuh dengan bayangan tas Papua yang melambai-lambai seakan minta “dicangklong”. Sepanjang perjalanan, senyum yang dimanis-manisin selalu tersungging di bibir saya.
Sampai di tempat kost Wahyu, kami langsung diajak masuk ke kamarnya. Mata saya tanpa sopan santun sudah langsung menjelajah kamar Wahyu mencari-cari tas yang sudah sejak tadi “tercangklong” di pikiran. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, Wahyu mengambil 2 buah benda seperti tabung panjang melengkung dengan salah satu ujungnya mengecil & dihiasi bulu-bulu halus seperti bulu burung.
Saya belum pernah melihat benda seperti itu secara langsung, tapi saya pernah melihatnya di tv, majalah atau surat kabar. Kening saya berkerut, firasat buruk langsung menyergap & menjatuhkan tas yang “tercangklong” di pikiran saya. Pasti itu….!!!
Ternyata benar! Duh Gusti…., saya & Fajar dapat oleh-oleh koteka! Seumur hidup tidak pernah saya bayangkan bisa memelototi koteka secara langsung. Sekarang saya malah bisa memegangnya bahkan memilikinya. Dalam hati saya berpikir, mau disimpen di mana benda keramat seperti ini. Jangan-jangan ini koteka seken lagi! Hiii…!!! Sepanjang perjalanan pulang dari tempat kost Wahyu, senyum mringis selalu tersungging di bibir saya.
Akhirnya koteka itu saya simpan di dalam lemari pakaian, di rak yang paling bawah. Lemari pakaian? Lha…bener kan kalo disimpan di lemari pakaian? Bukankah itu termasuk pakaian? Emang harus dipajang? Di kamar saya?! Wah…tunggu dulu…tunggu dulu….!!
Maaf…, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada budaya & adat istiadat suku-suku di Papua, memamerkan koteka ke orang tua saja saya tidak berani, apalagi memajangnya di kamar. Rasa-rasanya itu bukan ide yang bagus! Apa tidak serasa memajang celana kolor di dalam kamar? Kalau membuangnya? Ah…tidak tega rasanya.
Untuk memecahkan masalah, akhirnya saya tawarkan koteka itu kepada teman-teman saya. Siapa tahu ada yang tertarik menyimpan atau memajangnya? Tapi hasilnya selalu nihil. Jangankan memajang, setelah tahu benda itu adalah koteka, salah seorang teman saya bahkan melemparkannya ke muka saya sambil menjerit-jerit kegelian. Sialan banget! Ini pelecehan namanya! Sama saja dengan melempar muka saya dengan celana kolor. Dasar tidak tahu sopan santun!!
Setelah bertahun-tahun menjadi penghuni lemari pakaian, akhirnya doa saya untuk koteka dikabulkan Tuhan. Ada saudara saya yang tertarik untuk menyimpannya. Langsung saja saya bungkus rapat koteka itu dengan koran bekas & saya antar ke rumah saudara saya. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah saudara saya, senyum lega selalu tersungging di bibir saya.
Mungkin kalau kotekanya seukuran gantungan kunci, saya tidak bakalan sepusing ini. Kira-kira ada yang bisa untuk gantungan kunci tidak ya? He…he…he… Ternyata mendapat oleh-oleh tidak selalu menyenangkan.
wah wah, saya mau! saya mau!
koteka-nya kalau ndak mau dan daripada disimpan di lemari bawah,
kasih saya saja ya
vanie
Ika: Wah kotekanya sudah ada yang ngopeni Mbak, sudah laku. He…he…he… Terima kasih sudah mampir & komentar di blog saya.
hihihi…terkesan tidak niat melucu, tp kocak asli
Ika : Terima kasih untuk kunjungan & komentarnya. Saya jadi merasa tersandung…eh…tersanjung….