Namanya saja jenang pelok, tentu saja bahan dasarnya dari pelok. Pelok? Apaan tuh? Pelok adalah biji atau isi mangga. Pelok yang dipakai di sini adalah pelok yang berasal dari mangga yang sudah masak jadi peloknya sudah keras.
Walau ini makanan kampung dan jadul, prinsip-prinsip modern yang disebut daur ulang diterapkan dalam pembuatan jenang pelok. Haah…??!! Bagaimana tidak, pelok yang biasanya kita buang mak…wer di tempat sampah tanpa rasa hormat sedikitpun, dapat dimanfaatkan dan menjelma menjadi makanan yang enak yang mirip dengan dodol.
Carane? Begini, pelok yang urung jadi penghuni tempat sampah dijemur sampai kering. Setelah kering, dikupas kulit bijinya dan diambil bijinya. Biji itu lalu direndam dalam air kira-kira semalaman, lalu dijemur lagi sampai benar-benar kering-ring. Pekerjaan selanjutnya adalah menumbuk pelok kering sampai menjadi seperti tepung dan tepung inilah yang nantinya akan dimasak menjadi jenang pelok.
Perkenalan pertama saya dengan jenang pelok terjadi ketika kami sekeluarga tinggal di Purwodadi-Grobogan. Waktu itu saya masih SD. Pada suatu hari sepulang sekolah, ada sepiring makanan seperti dodol di atas meja makan. “Itu jenang pelok dari bu Marno,” kata Ibu. Keluarga pak Marno adalah tetangga depan rumah kami. Saya ambil makanan yang kata Ibu bernama jenang pelok dan rasanya…hmmm…rasanya manis seperti dodol, tapi lebih lembut dan tidak alot. Perkenalan pertama di siang itu begitu berkesan. Dalam hati saya berharap, semoga bu Marno berbaik hati memberi jenang pelok lagi.
Beberapa hari kemudian, ketika saya sedang asyik main di belakang rumah, datanglah 3 orang cucu bu Marno. Mereka datang dengan membawa tongkat bambu dan salah satu dari mereka, Wiji cucu tertua bu Marno membawa tas. Dari cara Wiji membawanya, tampak bahwa isi tas itu lumayan berat. Mereka menemui Ibu, setelah bercakap-cakap sebentar mereka langsung menuju tempat sampah keluarga kami.
Tempat sampah keluarga kami berupa galian tanah sedalam kira-kira 1 meter. Di tempat itulah, nasib sampah-sampah yang berasal dari rumah kami berakhir. Di dalamnya berisi bermacam-macam sampah yang tidak karuan lagi bentuk dan baunya. Wiji dan saudara-saudaranya bak seorang pemulung, membolak-balik sampah itu mencari-cari sesuatu. Karena penasaran, saya dekati Ibu dan bertanya, “Bu…Wiji ki ngapa to? Nggoleki apa nang tempat sampah?” Ibu agak lama terdiam, mungkin sedang mencari-cari kata-kata yang tepat untuk memberi penjelasan kepada saya yang keheranan melihat aksi Wiji dan saudara-saudaranya. “Mencari pelok.” Akhirnya keluarlah jawaban pendek dari mulut Ibu. Jawaban yang membuat saya memutar rekaman otak ke peristiwa perkenalan dengan jenang pelok beberapa hari yang lalu. Jadi??
Tidak ada lagi jenang pelok-jenang pelok yang lain sejak itu. Bahkan sampai saat ini saya belum pernah bertemu lagi dengan jenang pelok. Walau sempat trauma mendengar kata jenang pelok karena aksi Wiji dan saudaranya di tempat sampah, saat ini saya ingin merasakan makanan itu lagi. Makanan yang sebenarnya sangat enak dan ramah lingkungan. Coba bayangkan, berapa ton pelok yang bisa dimanfaatkan ketika musim mangga tiba dan berapa potong jenang pelok yang akan tercipta. Orang yang mengaku pencinta lingkungan pasti akan terkesan dengan jenis makanan ini. Jenang pelok.
Wah dadi kelingan maneh ki, Jenang Pelok itu memang enak katanya. Begini ceritanya, setelah membaca di atas, menjadi teringat masa lalu yang juga masih kecil tentunya, yang kebetulan simbah/nenek (almh) dari bapak aku almarhum tepatnya di Kediri, pare, papar, waktu itu saya ikut rame-rame berlima mencari biji mangga(Pelok) ke pasar, selang 3 hari kemudian ada makanan berupa jenang, ngak ngerti kalau jenag tadi asalnya dari Pelok yang aku ikut nyarik, tapi bedanya tidak ngoker-ngoker tanah mencari barang yang sudah terkubur.
Ika : Iya…emang enak banget. Tapi aku nyari2 sampai sekarang kok ya…belum ketemu dengan makanan hebat itu. Makasih ya…untuk komentarnya.
saia imma ..
saia malah lagi nyari cara pembuatannya untuk kartul ,,
saia udah pernah nyoba bikin, tapi gagal total ..
rasanya jadi pait dan nggumpal ,,
saia takut saia salah resep ..
mungkin mbak ika bisa nolong saia, gimana caranya bikin jenang pelok ,,
.. thx ..
nb : tolong balas lewat email ,,
Ika : Wah…kalo resepnya aku gak begitu paham Mbak. Ya…kalo aku pas nemu, nanti Mbak kuberitahu. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.