Kira-kira 2 bulan yang lalu, Bapak menunjukkan foto diri Bapak dalam ukuran besar kepada saya. Ada 2 foto, keduanya foto setengah badan Bapak.
Yang pertama, foto Bapak memakai jas lengkap dengan dasinya. Foto itu diambil ketika Bapak menghadiri suatu acara di Semarang. “Wah…, kok kaya fotone Mr. Bean Pak?!” kata saya setengah mengejek.
Bapak tertawa terkekeh dan mengambil lembaran foto kedua. “Iki foto gratisan nang JEC,” kata Bapak bernada bangga sambil menyodorkan foto kedua kepada saya. Foto itu diambil ketika Bapak melihat pameran komputer di JEC . Saat itu ada stand yang menyediakan jasa pemotretan gratis dan Bapak tertarik untuk mencobanya. Di foto itu Bapak memakai kemeja santai, kotak-kotak biru.
“Walah…kok nggaya men to Pak?!! Le…sempat-sempate foto barang.” komentar saya. Kami berdua lalu tertawa bersama-sama sambil memandang kedua foto itu. Terbersit rasa heran, kok Bapak kepikiran menyempatkan diri untuk berpose, nggaya membuat foto diri. Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan rasan-rasan Bapak yang tertarik ber-fesbuk-ria.
Ternyata kedua foto itu tidak jadi untuk ber-fesbuk-ria, karena ada tugas lain yang lebih mulia. Senin, 24 Agustus 2009 pada pukul 20.55, Bapak meninggal dunia di Panti Rapih. Ketika jenazah Bapak sudah sampai di rumah dan ditidurkan di ruang tamu, saya teringat kedua foto tersebut. Langsung saya obrak-abrik kamar Bapak untuk mencari kedua foto tersebut.
Setelah bongkar sana, bongkar sini, akhirnya saya berhasil menemukan kedua foto itu. Sesaat saya berpikir, foto mana yang akan saya pilih. Yang berjas dan berdasi seperti Mr. Bean atau yang cuma gratisan? Pilihan hati saya ternyata jatuh ke foto yang gratisan. Foto itu lalu dipasang di pigura oleh sepupu saya dan diletakkan di samping jenazah Bapak, menemani Bapak semalaman tidur yang terakhir kali di rumahnya.
Sekarang foto gratisan itu saya pasang di kamar Bapak. Setiap kali saya masuk ke kamar Bapak, mata saya pasti memandang foto itu. Lama-lama, saya harus mengakui bahwa menurut saya, foto gratisan itu adalah foto terbaik Bapak selama hidupnya yang pernah saya lihat.
thanks a atas tulisannya yang bagus…
kenalkan saya Agus Suhanto
Ika : Terima kasih untuk kunjungan & komentarnya.
Wah mbak Ika.. saya terharu baca tulisanmu yang singkat dan menarik ini…
Terus menulis ya mbak…
Semoga almarhumah Bapak mbak Ika tenang di sana
Ika : Tentu harus tetep nulis, sudah jadi kebutuhan je. Kamu juga harus tetep nulis. Semangat!