Teman saya Eka, berasal dari Pontianak. Walaupun sudah lama tinggal di Jogjakarta dan biasa berbahasa Jawa, kadang-kadang ada saja kata-kata yang salah Eka ucapkan.
Suatu ketika Eka bercerita tentang orang yang membeli pisau pencukur atau silet di kiosnya di pasar Legi. Anehnya, ketika bercerita Eka selalu menggunakan kata “pisau pencukur”, tidak pernah satu kalipun dia menggunakan kata “silet”. Pisau pencukur…pisau pencukur…pisau pencukur terus.
“Ka…kenapa ngomongnya pisau pencukur sih? Kenapa gak silet aja?”, protes saya. Sambil senyam-senyum, Eka menjawab protes saya, “Aku dilarang Han-han omong silet Mbak, aku disuruh omong pisau pencukur saja.”
Walah…Han-han pacar Eka ini kok aeng-aeng wae aturannya. “Emang kenapa Ka?”, kata saya lagi. “Anu…Mbak…ehmmm…aku pernah salah omong, aku gak omong silet tapi “silit” (maaf)! Makane supaya aman aku omongnya pisau pencukur saja”, Eka memberi penjelasan.
Oalah…begitu to ceritanya. Ternyata 1 huruf sangat berharga, hanya beda 1 huruf bisa beda arti dan berakibat fatal. Oya…untuk yang tidak mengerti bahasa Jawa,”silit” adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti, maaf…dubur.