Sore itu saya mau ke Panti Rapih. Berhubung sudah tidak ada angkot yang lewat, terpaksa saya naik ojek dari rumah sampai di depan toko buku Toga Mas, Gejayan dan berdiri di pinggir jalan menunggu bis yang melewati Panti Rapih.
Kira-kira 10 menitan menunggu bis yang tidak kunjung datang, tiba-tiba ada seorang perempuan berjilbab mendekati saya dengan sepeda motornya. Dengan halus dia berkata, “Mau kemana Mbak? Mau naik ojek?” Dalam hati saya membatin, ini beneran tukang ojek atau cuma pura-pura, mosok ada mbak-mbak nawari ojek, kalau bapak-bapak yang nawari sih sudah biasa. Bapak-bapak tetangga maksudnya. “Maaf Mbak, saya sedang menunggu bis”, jawab saya.
Ternyata jawaban saya tidak membuat mbak itu mundur. “Mbaknya mau kemana? Saya ini memang tukang ojek kok Mbak”, katanya lagi. Wah…tukang ojek beneran, tukang ojek perempuan. Mimpi apa semalam, bisa ketemu tukang ojek perempuan. Walau hati mulai tergoda, saya tetap menampilkan sikap ogah-ogahan alias jual mahal dan berusaha menjawab sediplomatis mungkin, “Tadi saya dari rumah sudah naik ojek, sekarang saya mau naik bis saja.”
Dengan semangat kewirausahaan yang sangat tinggi tanpa kenal menyerah, mbak ojek itu terus berusaha meyakinkan saya, apalagi dia melihat iman saya yang sudah mulai goyah termakan kata-katanya. Setelah bercakap-cakap beberapa saat, akhirnya saya bilang saya mau ke Panti Rapih.
“Mbak…kalau mau ke Panti Rapih, mbayarnya cukup 3 ribu saja. Hampir sama dengan tarif bis. Gimana Mbak? Mau gak?” , mbak ojek menyebutkan tarif jasanya.
3 ribu!! Untuk orang yang biasa berojek-ria seperti saya, tarif 3 ribu untuk jarak dari Toga Mas sampai ke Panti Rapih bisa disebut murah sekali. Jadi?? Ya…maulah yauw… Alhasil saya duduk manis membonceng mbak ojek itu.
Selama perjalanan yang memakan waktu kira-kira 10-15 menit, saya menyempatkan diri bercakap-cakap dengan mbak ojek. Mbak Sri, itulah nama mbak ojek saya itu. Menjadi tukang ojek memang pekerjaan sampingannya, selain sebagai seorang ibu rumah tangga. Kalau pagi dan siang, mbak Sri menjadi tukang antar jemput anak sekolah. Di luar jam antar jemput, mbak Sri menjadi tukang ojek panggilan. Tapi berbeda dengan tukang ojek lain yang biasa mangkal di pangkalan ojek, mbak Sari mangkal di rumahnya, yaitu di Condong Catur atau di Demangan.
Menurut mbak Sri, dia menjadi tukang ojek untuk membantu mencukupi kebutuhan pendidikan 3 orang anaknya. Wah…mbak Sri memang hebat ya??!!! Angkat 4 jempol untuk mbak Sri.
Jadi, bagi siapa saja yang kebetulan membutuhkan jasa seorang tukang ojek panggilan, tidak ada salahnya mencoba menghubungi mbak Sri. Nomer tilpunnya? Tenang… tenang… Hubungi saya dulu, nanti saya beritahu nomer tilpun mbak Sri.
Oya…kata mbak Sri, ada 1 syarat kalau mau mbonceng dia. Harus perempuan! Karena mbak Sri tidak bersedia memboncengkan laki-laki. Pokoke women only!!!
aku juga ibu rumah tangga, gimana ya kalo aku juga nyambi jadi tukang ojek, tapi kalo mbak Sri ‘women only’ aku mau ‘men only’ aja. kira2 laku gak ya….
Ika : Ha…ha…ha…Setuju!!! Wah mesti sing pengin ngojek padha antri. Pak Gandhi ya…melu antri, tapi antri urut nomer nang Pakem, nggo mriksake kowe.
mba ikaaa… aku mau dong no kontak ibu sri ituu.. aku kost di concat juga, butuh bgt ojek,.. makasih mba ikaa…
Ika : Oh gitu ya… Maaf lama gak nengokin blogku ini. Wah…catetan nomernya lagi gak kebawa. Ntar kuberitahu lewat e-mailmu ya…. Terima kasih sudah mampir di blogku.
keren!! kalo aku jadi tukang ojek aku cuma spesialis mboncengke anak-anak SD dan SMP. he he he
Ika : Itu juga keren kok, daripada aku yang gak bisa naik motor. Payah ya? He…he…he…